Sponsor

Liverpool FC

Senin, 30 Mei 2016

Rational Emotive Therapy, Behavioral Therapy, & Group Therapy

RATIONAL EMOTIVE THERAPY

 Tokoh utama rational Emotive Therapy (RET) adalah Albert Ellis. Terapi ini hakekatnya dibangun atas ketidakpuasan Albert Ellis terhada teori Psikoanalisa serta berdasar atas pemahamannya tentang teori behavioral

1.  Konsep Utama
          RET dibangun berdasar atas filosofi bahwa "apa yang mengganggu jiwa manusia bukanlah peristiwa-peristiwa, tetapi bagaimana manusia itu meraksi atau berprasangka terhadap  peristiwa-peristiwa tersebut".
            RET tidak memusatkan perhatian kepada peristiwa-peristiwa masa lalu, tetapi lebih kepada peristiwa yang terjadi saat ini dan bagaimana reaksi terhadap peristiwa tersebut. RET juga percaya bahwa setiap manusia memiliki pilihan, mampu mengontrol ide-idenya, sikap perasaan, dan tindakan-tindakannya serta mampu menyusun kehidupannya menurut kehendak atau pilihannya sendiri. RET didasari asumsi bahwa manusia itu dilahirkan dengan potensi rasional dan juga irasional. Seseorang berperilaku tertentu karena ia ercaya harus bertindak dalam cara itu. Sedangkan gangguan emosional terletak pada keyakinan irasional. Dengan kata lain keyakinan irasional lah yang menyebabkan gangguan emosional.
            RET juga disebut sebagai pendekatan konseling A-B-C-D-E. Dalam teori tersebut dinyatakan bahwa manusia membentuk perasaan dan tingkah lakunya berdasarkan pikiran dan filsafat yang ditemukannya sendiri, yang dibentuk oleh lingkungan sosialnya.
            Secara umum, teori tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
A     : Peristiwa yang menggerakan, misal "Saya gagal dalam tes matematika"
B     : Hasil evaluasi terhadap peristiwa yang dialami (A)
B1    : Pesan irasional "Saya gagal tes, berarti saya sebagai orang yang mengalami gagal total"
B2   : Pesan rasional "Saya gagal tes. Ini tidak memuaskan dan payah, tetapi ini semua harus dihadapi dan saya akan menyiapkan diri lebih baik untuk ujian mendatang"
C     : Representasi dari konsekuensi perasaan yang dihasilkan
B1   : Merasa tertekan
B2  : Berbesar hati dan tidak akan menghalangi dalam ujian berikutnya
D   : Hadirnya perdebatan argumen untuk melawan pesandiri yang tidak rasional dinyatakan dalam B1. Fungsi konselor adalah membantu untuk mempertanyakanesan-pesan irasional yang teridentifikasi.
E     : Merupakan jawaban-jawaban yang telah dikembangkan berdasar atas pertanyaan-pertanyaan irasional.

2.  Tujuan Konseling
           Menurut Thomson dan Rudolf (1983) tujuan RET adalah mengajarkan klien untuk berpikir dan secara personal lebih puas dalam merealisasikan pilihan-pilihan antara kebencian diri dan perilaku negatif, meningkat kepada perilaku yang positif dan efisien. 

3.  Fungsi Konselor
          Karakteristik utama pendekatan RET adalah aktif-direktif. Fungsi utama konselor dalam RET adalah menyerang, membantah, mengkonfrontasikan, atau membongkar keyakinan irasional klien dalam rangka menunjukan betapa tidak rasionalnya cara berpikir klien.

4.  Proses dan Teknik Konseling
        Dalam proses konseling, klien diharapkan sepenuhnya dapat mencapai tiga pemahaman (1) peristiwa-peristiwa sebelumnya yang menyebabkan perilakunya neurotik, (2) alasan-alasan yang menjadikan ia mempertahankan ketidakbahagiannya dan mengulanginya,, (3) klien dapt mengalahkan gangguan emosinya dengan secara konsisten mengobservasi, menanyakan, dan menemukan sistem keyakinan dirinya.
  • Teknik Kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berpikir klien. Teknik ini meliputi; pengajaran, persuasif, konfrontasi, dan pemberian tugas. 
  • Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Dalam teknik ini, konselor harus mampu menerima klien tanpa syarat. Termasuk teknik ini diantaranya  adalah sosiodrama, role playing, modeling ataupun self modeling, latihan asertif, humor, serta latihan melawan rasa malu.
  •   Teknik-teknik perilaku adalah teknik yang diggunakan untuk mengubah perilaku klien yang tidak diinginkan. Termasuk teknik ini adalah melalui penerapan prinsip penguatan (reinforcement), teknik pemodelan sosial (social modeling), serta relaksasi.

BEHAVIORAL THERAPY

  Teori konseling behavioral  berasal dari konsepsi yang dikembangkan oleh hasil-hasil penelitian psikologi eksperimental. Terutama dari Pavlov dengan classical conditioning-nya dan B.F Skinner dengan operant conditioning-nya yang menurut mereka berguna untuk pemecahan masalah-masalah tingkah laku abnormal dari yang sederhana (hysteria, obsesional neurosis, paranoid) sampai pada yang kompleks (seperti phobia, anxiety, psikosa).

1.  Konsep Utama
          Dalam pandangannya tentang manusia, teori behavioral  menganggap bahwa pada dasarnya manusia bersifat mekanistik dan hidup dalam alam yang deterministik, dengan sedikit peran aktifnya untuk memilih martabatnya. Perilaku manusia adalah hasil respon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas dan melalui interaksi kemudian berkembang pola-pola perilaku yang kemudian membentuk kepribadian. Dalam konsep behavioral, perilaku manusia merupakan hasil proses belajar, sehingga dapat diubah dengan memanipulasi kondisi-kondisi belajar. 

2. Aplikasi dalam Konseling
            Konsep behavioral dalam psikoterapi yaitu bagaimana memodifikasi perilaku melalui penataan lingkungan, sehingga terjadi proses belajar yang tertuju kepada perubahan perilaku. Pendekatan behavioral yang memusatkan perhatian kepada perilaku yang tampak, mengindikasikan bahwa dalam pelaksanaan konseling yang perlu diperhatikan adalah pentingnya konselor untuk mecermati masalah-masalah penyimpangan perilaku klien yang ditampilkan untuk selanjutnya merumuskan secara jelas tentang perubahan-perubahan yang dikehendaki.

  a. Tujuan Konseling --> Menghapus pola-pola maladaptif individu dan membantu mereka mempelajari pola-pola tingkah laku yang lebih konstruktif, mengubah tingkah laku maladaptif individu, dan menciptakan kondisi-kondisi baru yang memungkinkan terjadinya proses belajar ulang.

 b. Fungsi Konselor --> Penerapan-penerapan prinsip belajar dalam pendekatan behavioral  tela menempatkan pentingnya fungsi dan peranan konselor sebagai pengajar. Secara aktif, kreatif dan direktif konselor diharapkan mampu menerapkan pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya guna mengajarkan keterampilan-keterampilan baru sesuai permasalahan klien dan tujuan yang diinginkan.

3. Metode dalam Konseling Behavioral
  • Operant Learning --> Penguatan yang dapat menghasilkan perilaku yang diharapkan, serta pemanfaatan situasi di luar klien yang dapat memperkuat perilaku klien yang dikehendaki.
  • Unitative Learning atau Social Modelling --> Perilaku adaptif yang dapat dijadikan model bagi klien, dapat melalui rekaman, pengajaran terprogram, video, fil, atau biografi orang.
  • Cognitive Learning --> Banyak menekankan pentingnya aspek perubahan kognitif klien.
  • Emotional Learning --> Metode ini digunakan untuk individu yang mengalami kecemasan melalui penciptaan situasi rileks. 
4. Teknik dalam Konseling  Behavioral
  •  Disentisisasi Sistematis --> Cara yang digunakan untuk menghapus tingkah laku yang negatif dengan menyertakan pemunculan tingkah laku yang berlawanan.
  • Latihan Asertif --> Latihan mempertahankan diri akibat perlakuan orang lain yang menimbulkan kecemasan dengan cara mempertahankan hak dan harga dirinya.
  • Terapi Aversi --> Untuk menghilangkan kebiasaan buruk atau menghukum perilaku yang negatif dan mempertahankan perilaku yang positif.
  • Penghentian Pikiran --> Teknik ini digunakan untuk klien yang sangat cemas.
  • Kontrol Diri
  • Pekerjaan Rumah 

GROUP THERAPY

1. Konsep Utama
     Terapi yang dilakukan pada sebuah kelompok dengan kegiatan yang terstruktur dan memberikan efek terapeutik bagi para anggotanya. Setiap anggota akan belajar untuk membuka diri mereka, menceritakan masalah mereka, mendengar pendapat atau saran dari anggota lain. Terapi kelompok dilakukan sekelompok pasien bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain yang dipimpin atau diarahkan oleh seorang terapis atau petugas kesehatan jiwa yang telah terlatih. Keuntungan yang diperoleh individu melalui terapi aktivitas kelompok ini adalah dukungan, pendidikan, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, meningkatkan kemampuan hubungan interpersonal dan meningkatkan uji realitas.

2. Unsur-unsur Terapi
  • Mengidentifikasi masalah bersama orang lain yang memiliki permasalahan yang sama.
  • Membantu klien untuk meningkatkan hubungan interpersonal dengan klien lain sehingga setiap dari mereka dapat saling mendukung.
  • Menghilangkan perasaan-perasaan terisolasi dalam diri klien.
  • Menghilangkan kecemasan-kecemasan yang dirasakan oleh klien.
  • Mendorong klien untuk membicarakan perasaan-perasaan batinnya dengan sepenuh hati.
  • Membantu klien untuk melepaskan ketegangan dalam diri yang telah dipendam.
  • Meningkatkan klien untuk berpartisipasi serta bertukar pikiran dan masalah dengan orang lain. 
3. Teknik Terapi
  • Teknik yang melibatkan anggota keluarga
  • Teknik yang melibatkan pemimpin
  • Menggunakan babak-babak teurapeutik
  • Teknik sesekali membantu lebih dari satu anggota.
  • Teknik untuk bekerja dengan Individu secara tidak langsung.
  • Teknik yang menyebabkan para anggota berbagi pada tingkat lebih pribadi


SUMBER
Mashudi, F. (2013). Psikologi konseling. Yogyakarta: IRCiSoD.
 Kuntjojo, Profesionalisasi Bimbingan dan Konseling.
Sunardi, P., & Assjari, M. (2008). Teori konseling. Bandung: PLB FIP UPI.

RIZKI AMALIA
3PA12
17513912

Minggu, 10 April 2016

CONTOH KASUS CLIENT CENTER THERAPY

Leon seorang mahasiswa, mungkin melihat dirinya sebagai dokter masa depan, tetapi  nilainya yang dikeluarkan dari sekolah kedokteran ternyata dibawah rata-rata. Perbedaan antara dengan apa Leon melihat dirinya (konsep diri) atau bagaimana ia ingin melihat dia (ideal konsep diri) dan realitas kinerja akademis yang buruk dapat menyebabkan kegelisahan dan kerentanan pribadi, yang dapat memberikan motivasi yang diperlukan untuk masuk terapi. Leon harus melihat bahwa ada masalah atau tidak pada dirinya. Leon pesimis untuk menghadapai penyesuaian psikologis untuk mengeksplorasi perubahan dirinya. Konseling berlangsung, klien dapat mengeksplorasi lebih luas keyakinannya dan perasaan (Rogers, 1967). Mereka dapat mengekspresikan ketakutan mereka, rasa bersalah kecemasan, malu, kebencian, kemarahan, dan lain sebagainya. emosi telah dianggap terlalu negatif untuk menerima dan memasukkan ke dalam diri mereka. Dengan terapi, orang disortir kurang dan pindah ke penerimaan yang lebih besar dan integrasi perasaan yang saling bertentangan dan membingungkan. Mereka semakin menemukan aspek dalam diri mereka yang telah disimpan tersembunyi.
Sebagai klien merasa dimengerti dan diterima, mereka menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman mereka. Karena mereka merasa lebih aman dan kurang rentan, mereka menjadi lebih realistis, menganggap orang lain dengan akurasi yang lebih besar, dan menjadi lebih mampu untuk memahami dan menerima orang lain. Individu dalam terapi datang untuk menghargai diri mereka lebih seperti mereka, dan perilaku mereka menunjukkan lebih banyak fleksibilitas dan kreativitas. Mereka menjadi kurang peduli tentang memenuhi harapan orang lain, dan dengan demikian mulai berperilaku dengan cara yang lebih benar untuk diri mereka sendiri. Mereka bergerak ke arah yang lebih berhubungan dengan apa yang mereka alami pada saat ini, kurang terikat oleh masa lalu, kurang ditentukan, lebih bebas untuk membuat keputusan, dan semakin percaya diri masuk untuk mengelola kehidupan mereka sendiri.
Dari contoh kasus Leon dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu alasan klien mencari terapi adalah perasaan tidak percaya diri, dan ketidakmampuan untuk membuat keputusan atau secara efektif mengarahkan hidup mereka sendiri. Leon diarahkan supaya melihat kepotensian diri dia yang sebenarnya, terapi difokuskan ke saat yang sekarang agar Leon dapat melanjtukan hidupnya.
Dari contoh kasus tersebut inti dari terapi ini adalah penggunaan pribadi terapi yang kapasitas untuk sadar akan dirinya, meningkatkan kesadaran diri yang memotivasi atau mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup individu itu (Baldwin, 1987).  

SUMBER

Corey Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama 

RIZKI AMALIA
3PA12
17513912

PSIKOTERAPI -- TUGAS 2

 TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIALIS

Terapi-terapi psikodinamik cenderung memusatkan perhatian pada proses-proses tak eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman-pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistic eksistensial juga lebih memusatkan pada apa yang dialami pasien pada masa-masa sekarang “di sini dan kini” dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga kesamaan antara terapi-terapi humanistuk eksistensial, yakni keduanya menekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien.

Teori konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Banyak para ahli psikologi yang berorientasi eksistensial,mengajukan argumen menentang pembatasan studi tingkah laku pada metode-metode yang digunakan oleh ilmu alam. Terapi eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa lari dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab berkaitan. Dalam penerapan-penerapan terapeutiknya eksistensial-humanistik memusatkan perhatian pada filosofis yang melandasiterapi. Pendekatan atau teori eksistensian-humanistik menyajikan suatu landasan filosofis bagi orang berhubungan dengan sesama yang menjadi ciri khas, kebutuhan yang unik dan menjadi tujuan konselingnya, dan yang melalui implikasi-implikasi bagi usaha membantu dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dasar yang menyangkut keberadaan manusia.

Pendekatan eksistensial-humanistik mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, sentral memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Ia menunjukkan bahwa manusia selalu ada dalam proses pemenjadian dan bahwa manusia secara sinambung mengaktualkan dan memenuhi potensinya. Pendekatan eksistensial secara tajam berfokus pada fakta-fakta utama keberadaan manusia-kesadaran diri dan kebebasan yang konsisten.


1.    Konsep Dasar Pandangan Humanistik Eksistensial Tentang Perilaku atau Kepribadian

Pendekatan Eksistensial-humanistik berfokus pada diri manusia. Pendekatan ini mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik dalam konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang bertujuan untuk mempengaruhi konseling. Pendekatan terapi eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Konsep-konsep utama pendekatan eksistensial yang membentuk landasan bagi praktek konseling, yaitu:

a) Kesadaran Diri
    Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

b) Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Kecemasan
     Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

c) Penciptaan Makna
    Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, kerasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.

2.    Unsur-unsur Terapi

a) Tujuan-tujuan Terapeutik
   Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
Tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Terapi eksistensial juga bertujuan membantuklien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.

b) Fungsi dan Peran Terapis
   Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orintasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
  • Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
  • Menyadari peran dari tanggung jawab terapis
  • Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
  • Berorientasi pada pertumbuhan
  • Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang   menyeluruh.
  • Mengakui bahwa putusan-ptusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tengan klien
  • Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
  • Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
  • Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien

3.    Teknik-teknik Terapi

Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi.
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien.

Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
  • Penerimaan
  • Rasa hormat
  • Memahami
  • Menentramkan
  • Memberi dorongan
  • Pertanyaan Terbatas
  • Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
  • Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
  • Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna

PERSON CENTER THERAPY (CARL ROGERS)


A.   Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers Tentang Perilaku atau Kepribadian

Carl Rogers adalah psikolog humanistik kebangsaan Amerika yang berfokus pada hubungan tarapeutik dan mengembangkan metode baru terapi berpusat pada klien. Rogers adalah salah satu individu yang pertama kali menggunakan istilah klien bukan pasien. Terapi berpusat pada klien berfkous pada peran klien, bukan ahli terapi, sebagai proses kunci penyembuhan. Rogers yakin bahwa setiap orang menjalani hidup di dunia secara berbeda dan mengetahui pengalaman terbaiknya. Menurut Rogers, klien benar-benar “berupaya untuk sembuh” dan dalam hubungan ahli terapi – klien yang suportif dan saling menghargai, klien dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Klien berada di posisi terbaik untuk mengetahui pengalamannya sendiri dan memahami pengalamannya tersebut. Untuk memperoleh harga dirinya dan mencapai aktualisasi diri tersebut.

Konsep Carl Rogers Tentang Kepribadian
Berbagai istilah dan konsep yang muncul dalam penyajian teori Rogers mengenai kepribadian dan perilaku yang sering memiliki arti yang unik dan khas dalam orientasi sebagai berikut :
1. Pengalaman
Pengalaman mengacu pada dunia pribadi individu. Setiap saat, sebagian dari hal ini terkait akan kesadaran. Misalnya, kita merasakan tekanan pena terhadap jari – jari kita seperti yang kita tulis. Beberapa mungkin sulit untuk membawa ke dalam kesadaran, seperti ide, “Aku orang yang agresif”. Sementara kesadaran masyarakat yang sebenarnya dari total lapangan pengalaman mereka mungkin terbatas, setiap individu adalah satu-satunya yang bisa tahu itu seluruhnya.
2. Realitas
Untuk tujuan psikologis, realitas pada dasarnya adalah dunia pribadi dari persepsi individu, meskipun untuk tujuan sosial realitas terdiri dari orang-orang yang memiliki persepsi tingkat tinggi kesamaan antara berbagai individu. Dua orang akan setuju pada kenyataan bahwa orang tertentu adalah politisi. Satu melihat dirinya sebagai seorang wanita baik yang ingin membantu orang dan berdasarkan kenyataan orang menilai untuk dirinya. Kenyataannya orang lain adalah bahwa politisi menyisihkan uang untuk rakyat dalam memiliki tujuan untuk memenangi hati dari rakyat. Oleh karena itu orang ini memberi suara padanya (wanita). Dalam terapi, di sebut sebagai merubah perasaan dan merubah persepsi.
3. Organisme Bereaksi sebagai Terorganisir yang utuh
Seseorang mungkin lapar, tetapi karena harus menyelesaikan laporan. Maka, orang tersebut akan melewatkan makan siang. Dalam psikoterapi, klien sering menjadi lebih jelas tentang apa yang lebih penting bagi mereka. Sehingga perubahan perilaku di arahkan dalam tujuan untuk di klasifikasikan. Seorang politisi dapat memutuskan untuk tidak mrncalonkan diri untuk mendapatkan jabatan karena ia memutuskan bahwa kehidupan keluarganya lebih penting dari pada mencalonkan diri sebagai pejabat.
4. Organisme mengaktualisasi kecenderungan (The Organism Actualizing Tendency)
Ini adalah prinsip utama dalam tulisan-tulisan dari Kurt Goldstein, Hobart Mowrer, Harry Stack Sullivan, Karen Horney, dan Andras Angyai. Untuk nama hanya beberapa. Perjuangan untuk mengajarkan anak dalam belajar jalan adalah sebuah contoh. Ini adalah keyakinan Rogers dan keyakinan sebagaian besar teori kepribadian yang lain. Di beri pilihan bebas dan tidak adanya kekuatan eksternal. Individu lebih memilih untuk menjadi sehat daripada sakit, untuk menjadi independen dari pada bergantung. Dan secara umum untuk mendorong pengembangan optimal dari organisme total.
5. Frame Internal Referensi
Ini adalah bidang persepsi individu. Ini adalah cara dunia muncul dan sebuah makna yang melekat pada pengalaman dan melibatkan perasaaan. Dari titik orang memiliki pusat pandangan. Kerangka acuan internal memberikan pemahamana sepenuhnya tentang mengapa orang berperilaku seperti yang mereka lakukan. Hal ini harus di bedakan dari penilaian eksternal perilaku, sikap, dan kepribadian.
6. Konsep Diri
Istilah-istilah mengacu pada gesalt, terorganisir konsisten, konseptual terdiri dari persepsi karakteristik “I” atau “saya” dan persepsi tentang hubungan dari “I” atau “Aku” kepada orang lain dan berbagai aspek kehidupan, bersama dengan nilai-nilai yang melekat pada persepsi ini. Menurut Gesalt kesadaran merupakan cairan dan proses perubahan.
7. Symbolization
Ini adalah proses di mana individu menjadi sadar. Ada kecenderungan untuk menolak simbolisasi untuk pengalaman berbeda dengan konsep dirinya. Misalnya, orang-orang menganggap dirinya benar akan cenderung menolak simbolisasi tindakan berbohong. Pengalaman ambigu cenderung di lambangkan dengan cara yang konsisten dengan konsep diri. Seorang pembicara kurang percaya diri dapat di lambangkan khalayak diam sebagai terkesan, orang yang percaya diri dapat melambangkan sebuah kelompok yang penuh perhatian dan tertarik.
8. Penyesuaian Psikologis & Ketidakmampuan Menyesuaikan diri
Hal ini mengacu pada konsistensi, atau kurangnya konsistensi, antara pengalaman individu sensorik dan konsep diri. Sebuah konsep diri yang mencakup unsur-unsur kelemahan dan ketidaksempurnaan memfasilitasi simbolisasi dari pengalaman kegagalan. Kebutuhan untuk menolak atau mendistorsi pengalaman seperti tidak ada dan karena itu menumbuhkan kondisi penyesuaian psikologis.
9. Organismic Valuing Process
Ini adalah proses yang berkelanjutan di mana individu bebas bergantung pada bukti indra mereka sendiri untuk membuat penilaian. Hal ini yang berbeda dengan sistem fixed menilai intrijected di tandai dengan “kewajiban” dan “keharusan” dan juga dengan apa yang seharusnya benar/salah. Proses menilai organismic konsisten dengan hipotesis.
10. The Fully Functioning Person
Rogers mendefinisikan mereka yang bergantung pada Organismic valuing process seperti Fully functioning person. Dapat mengalami semua perasaan mereka, ketakutan, memungkinkan kesadaran bergerak bebas di dalam pikiran mereka dan melalui pengalaman mereka.

B.    Unsur-unsur Terapi

1.    Peran Terapis
Menurut Rogers, peran terapis bersifat holistik, berakar pada cara mereka berada dan sikap-sikap mereka, tidak pada teknik-teknik yang di rancang agar klien melakukan sesuatu. Penelitian menunjukkan bahwa sikap-sikap terapislah yang memfasilitasi perubahan pada klien dan bukan pengetahuan, teori, atau teknik-teknik yang mereka miliki. Terapis menggunakan dirinya sendiri sebagai instrument perubahan. Fungsi mereka menciptakan iklim terapeutik yang membantu klien untuk tumbuh. Rogers, juga menulis tentang I-Thou. Terapis menyadari bahasa verbal dan nonverbal klien dan merefleksikannya kembali. Terapis dan klien tidak tahu kemana sesi akan terarah dan sasaran apa yang akan di capai. Terapis percaya bahwa klien akan mengembangkan agenda mengenai apa yang ingin di capainya. Terapis hanya fasilitator dan kesabaran adalah esensial.

2. Tujuan Terapis
Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang di milikinya pada pasien. Fokus dari terapi adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang di ungkapkan oleh pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan-perasaanya yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak di akui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau menguraikan dengan kata-kata pa yang di ungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.

C. Teknik-teknik Terapi

Untuk terapis person centered, kualitas hubungan terapis jauh lebih penting daripada teknik. Rogers, percaya bahwa ada tiga kondisi yang perlu dan sudah cukup terapi, yaitu :
1. Empati
  Empati adalah kemampuan terapis untuk merasakan bersama dengan klien dan menyampaikan pemahaman ini kembali kepada mereka. Empati adalah usaha untuk berpikir bersama dan bukan berpikir tentang atau mereka. Rogers mengatakan bahwa penelitian yang ada makin menunjukkan bahwa empati dalam suatu hubungan mungkin adalah faktor yang paling berpengaruh dan sudah pasti merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dan pembelajaran.
 2. Positive Regard (Acceptance)
    Positive Regard yang di kenal juga sebagai akseptansi adalah geunine caring yang mendalam untuk klien sebagai pribadi – sangat menghargai klien karena keberadaannya.
3. Congruence
  Congruence/Kongruensi adalah kondisi transparan dalam hubungan tarapeutik dengan tidak memakai topeng atau pulasan-pulasan.
Menurut Rogers perubahan kepribadian yang positif dan signifikan hanya bisa terjadi di dalam suatu hubungan.

LOGOTHERAPY (VIKTOR FRANKL)

1.    Konsep Dasar Pandangan Frankl Tentang Perilaku atau Kepribadian
 
Viktor Frankl mengembangkan Logoterapi yaitu: corak psikologi yang dilandasi oleh filsafat hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi kerohaniandi samping dimensi ragawi dan dimensi kejiwaan. Logoterapi beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna. Logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainnya erat berhubungan dan saling menunjang, yaitu kebebasan berkehendak, kehendak hidup bermakna, dan makna hidup.

a. Kebebasan berkehendak
Dalam pandangan logoterapi, manusia adalah makhluk istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan di sini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung hawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari kondisi-kondisi biologis, psikologis, dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap atas kondisi-kondisi tersebut.
b. Kehendak hidup bermakna
Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda dengan psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan, atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan.
c. Makna hidup
Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang

2.    Unsur-unsur Terapi

Viktor Frankl mengembangkan Logoterapi yaitu: corak psikologi yang dilandasi oleh filsafat hidup dan wawasan mengenai manusia yang mengakui adanya dimensi kerohaniandi samping dimensi ragawi dan dimensi kejiwaan. Logoterapi beranggapan bahwa makna hidup dan hasrat untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna. Logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainnya erat berhubungan dan saling menunjang, yaitu kebebasan berkehendak, kehendak hidup bermakna, dan makna hidup.
Logoterapi menganggap sikap bertanggung jawab sebagai esensi dasar kehidupan manusia. Dengan menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab dan harus mewujudkan berbagai potensi makna hidup, Frankl menekankan bahwa makna hidup yang sebenarnya harus ditemukan dalam realitas, bukan hanya didalam batin atau jiwa manusia. Mengenai hal ini Frankl menggunakan istilah the self trancedence of human existence (transedensi diri dalam keberadaan manusia). Ia menggarisbawahi fakta bahwa manusia selalu menuju dan dituntun menuju kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya.
Semakin besar kemampuan orang tersebut melupakan dirinya, dengan berserah diri dan mengabdi pada sebuah tujuan atau dengan mencintai orang lain, semakin manusiawi orang tersebut, dan semakin besar ia mengaktualisasi diri atau mewujudkan dirinya. Logoterapi dilandasi keyakinan bahwa manusia memiliki kapasitas untuk mengubah aspek-aspek hidup yang negatif menjadi sesuatu yang positif atau konstruktif. Yang paling penting adalah memanfaatkan yang terbaik (optimum) dari setiap situasi. Dengan optimism tersebut, dalam bentuk yang terbaik memungkinkan manusia untuk: (1) mengubah penderitaan menjadi keberhasilan dan sukses; (2) mengubah rasa bersalah menjadi kesempatan untuk mengubah diri sendiri ke arah yang lebih baik; (3) mengubah ketidakkekalan hidup menjadi dorongan untuk bertindak dengan penuh tanggungjawab.

3.    Teknik-teknik Terapi

Frankl dengan logoterapinya tidak hanya menyumbang teori, tetapi juga teknik-teknik terapi yang khusus kepada dunia psikoterapi. Teknik-teknik logoterapi yang terkenal adalah intensi paradoksikal, derefleksi, dan bimbingan rohani.
Intensi paradoksikal. Teknik di mana pasien diajak melakukan sesuatu yang paradox dengan sikap pasien terhadap situasi yang dialami tersebut teknik intensi paradoksikal, yakni teknik mendekati dan mengejek sesuatu (gejala) dan bukan menghindari atau melawannya. Teknik pada dasarnya bertujuan lebih daripada perubahan pola=pola tingkaj laku. Lebih baik dikatakan suatu reorientasi eksistensial. Itulah logoterapi dalam arti sesungguhnya dan menurut logoterapi disebut antagonism psikonoetik yang mengacu pada kapasitas manusia untuk melepaskan atau memisahkan dirinya tidak hanya dari dunia, tetapi juga dari dirinya sendiri.

SUMBER

Gerald, Corey,. Teoridan. Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung : Revika Aditama
Syamsu, Yusuf,. Juntika, Nurihsan. Teori Kepribadian, Bandung : PT Remaja Rosdakarya
E, Koswara. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama
Corsini, R. (2000). CURRENT PSYCHOTHERAPIES. Itasca , Illinois: F.E. PeacockPublishers.
Murad, J. (2006). Dasar – Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia.
Semiun, Y. (2010). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.
LSPR. (2010). Beyond borders: communication modernity & history. Jakarta: STIKOM LSPR.
Widyarini, Nilam. (2009). Kunci pengembangan diri. Jakarta: Tabloid Gaya Hidup Sehat
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta: KASINUS.

RIZKI AMALIA
3PA12
17513912

Jumat, 25 Maret 2016

CONTOH KASUS TERAPI PSIKOANALISIS

Klien  adalah seseorang yang memiliki trauma masa lalu. Klien pernah mengalami trauma diperkosa oleh pamannya sehingga klien sangat membenci pamannya dan berusaha melupakan kejadian tersebut. Pada saat terapi, terapis mencoba menggali lebih dalam informasi dari klien dengan membuat klien mengingat kembali kejadian tersebut sehingga dapat memancing emosi klien, maka klien diberikan katarsis (pelampiasan). Pada saat menjalankan terapi klien ditempatkan disebuah ruangan dimana klien dapat mengekspresikan kemarahannya seperti berteriak sekeras-kerasnya didalam ruangan dan melakukan katarsis atau meninju boneka (benda yang dijadikan katarsis). Contoh tersebut merupakan contoh kasus dari asosiasi bebas dimana klien dibiarkan untuk memunculkan ketidaksadarannya. Hal ini juga berkaitan dengan proses katarsis.

SUMBER

Corsini, R.J. & Wedding, D. (2011). Current Psychotherapies. Ed. 9. Belmont: Brooks/Cole.

PSIKOTERAPI: TUGAS 1

PENGERTIAN PSIKOTERAPI

Psikoterapis adalah profesional kesehatan mental yang membantu orang-orang untuk mengatasi masalah emosional mereka.
Woberg merumuskan psikoterapi sebagi suatu bentuk perawatan (atau perlakuan, treatment) terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari faktor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan profesional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah suatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan peribadi secara lebih positif.

TUJUAN PSIKOTERAPI

Tujuan psikoterapi menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. Singkatnya psikoterapi menangani dengan tujuan penyembuhan.
Menurut Mowrer mengatakan psikoterapi bertujuan berusaha menyembuhan klien atau pasien yang menderita gangguan neurosis-kecemasan (neurotic anxiety). Sedangkan Tyler mengemukakan psikoterapi berusaha melakukan perubahan pada struktur perkembangan dan kepribadian, lalu Tyler menyimpulkan psikoterapi berhubungan dengan konflik yang ada dalam diri seseorang (intrapersonal). 

UNSUR PSIKOTERAPI

Masserman menyebutkan tujuh “parameter pengaruh” psikoterapi dasar yang mencakup lazim unsur-unsur pada semua jenis psikoterapi. Dalam hal ini termasuk peran sosial psikoterapis, hubungan (persekutuan terapeutik), hak, retrospeksi, re-edukasi, rehabilitasi, resosialisasi, dan rekapitulasi.

PERBEDAAN ANTARA PSIKOTERAPI DAN KONSELING

Pallon dan Petterson mengatkan perbedaan antara konseling dan psikoterapi. Sebagai berikut:
Konseling untuk: Klien, gangguan yang kurang serius, masalah: jabatan dan pendidikan, berhubungan dengan pencegahan, lingkungan pendidikan dan non-medis, berhubungan dengan kesadaran, dan metode pendidikan
Psikoterapi: Pasien, gangguan yang serius, masalah kepribadian dan pengambilan keputusan, berhubungan dengan penyembuhan, lingkungan medis, berhubungan dengan ketidaksadaran, dan metode penyembuhan
Brammer dan Shostrom mengakatan perbedaan konseling dan psikoterapi sebagai berikut:
Konseling ditandai dengan adanya terminologi seperti: educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present time, and short time.
Sedangkan psikoterapi ditandai oleh: supportive (dalam keadaan krisis), recontuctive, depthemphasis, analytical, focus on the past, neurotic and other severe emotional problem, and long term.


PENDEKATAN TERHADAP MENTAL ILLNESS
 - Interaksi Sistematis, menggunakan suatu interaksi antara pasien dan terapis. Kata sistematis disini berarti psikoterapi menyusun interaksi-interaksi dengan suatu rencana atau tujuan khusus yang menggambarkan segi pandangan teoritis terapis
- Prinsip-prinsip Psikologis, psikoterapi menggunakan prinsip-prinsip, penelitian, dan teori-teori psikologis serta menyusun interaksi terapeutik
- Tingkah laku pikiran dan perasaan, psikoterapi memusatkan perhatian untuk membantu pasien mengadakan perubahan-perubahan behavioral, kognitif, dan emosional serta membantunya supaya menjalani kehidupan yang lebih penuh dan memuaskan.
- Tingkah laku abnormal, memecahkan masalah dan pertumbuhan pribadi, sekurang-kurangnya ada tiga kelompok pasien yang dibantu oleh psikoterapi. Kelompok pertama adalah orang-orang yang mengalami masalah tingkah laku abnormal. Kelompok kedua adalah orang-orang yang meminta bantuan untuk menangani permasalah hubungan-hubungan yang bermasalah atau menangani masalah-masalah pribadi yang tidak cukup berat untuk dianggap abnormal. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang mencari psikoterapi kerena psikoterapi dianggap sebagai sarana untuk memperoleh pertumbuhan pribadi, bagi mereka psikoterapi adalah sarana untuk penemuan diri dan peningkatan kesadaran yang akan membantu mereka untuk mencapai potensi yang penuh sebagai manusia. 

Pendekatan psikoterapi:
- Pendekatan Psikodinamik, membantu pasien mengembangkan pemahaman-pemahaman mengenai penyebab dari kecemasan, dan diasumsikan pemahaman-pemahaman itu akan menghasilkan perubahan tingkah laku.
- Psikoanalisis, menemukan konflik-konflik apakah yang menyebabkan kecemasan pasien. Akan tetapi, usaha mencari konflik-konflik itu dihambat oleh dua faktor. Pertama, konflik-konflik itu berawal dari masa kanak-kanak, dengan demikian ditutup oleh lapisan-lapisan pengalaman. Dan kedua, konflik-konflik itu adalah tidak sadar. Dikatakan tidak sadar karena dalam usaha mengurangi kecemasan konflik-konflik itu direpresikan, dengan demikian hilang dari kesadaran.
- Pendekatan Belajar, didasarkan pada gagasan bahwa tegangan fisiologis adalah penyebab dari kecemasan kognitif. Dengan kata lain, para ahli teori belajar mengasumsikan bahwa kita merasa cemas karena jantung kita berdenyut dengan cepat.
- Pendekatan Tingkah Laku Kognitif, teknik utama ini adalah menghentikan pikiran. Teknik ini digunakan kalau pasien memberikan sinyal kepada terapis yang menunjukan suatu pikiran obsesif pelan-pelan timbul pada kesadaran dimana pada saat itu terapis berteriak “berhenti!”. Tidak mengherankan apabila pasien dikagetkan dan segera menyadari bahwa intrupsi itu mengusir pikiran-pikirannya yang tidak dikehendaki.
- Pendekatan Fisiologis, pendekatan fisiologis untuk merawat kecemasan dengan menggunakan obat-obat yang mereduksi kegiatan neurologis yang berlebihan itu. 

TERAPI PSIKOANALISIS

Salah satu bentuk terapi adalah pendekatan psikoanalisis, psikoanalisis yang menggunakan metode asosiasi bebas secara sistematis,, analisis hubungan transferensi dan penafsiran dengan tujuan penanganan masalah-masalah emosi.

Adapun Konsep Utama dalam Psikoanalisis adalah :
Struktur Kepribadian
·      Id
Id adalah komponen biologis, system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan. Id bersifat tidak logis, amoral, dan di dorong oleh suatu kepentingan.
·      Ego
Ego adalah komponen psikologis, eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego memiliki kontak dengan dunia eksternal dari kenyataan. Tugas utama ego adalah memperantarai naluri dengan lingkungan sekitar. Ego mengendalikan kesadaran dan melaksanakan sensor, dengan diatur oleh asas kenyataan, ego berlaku realistis dannberfikir logis serta merumuskan rencan-renacana tindakan bagi pemuasaan kebutuhan.
·      Superego
Superego adalah cabang moral atau hokum dari kepribadian. Superego memiliki tugas utama yaitu menilai apakah suatu tindakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas untuk dilakukan, benar atau salah. Superego mempreesentasikan nilai-nilai tradisional dan ideal-ideal masyarakat yang diajarkan oleh orang tua pada anaknya.
Unsur-unsur Terapi Psikoanalisis
Tujuan Terapi Psikoanalitik
Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari didalam diri klien. Proses terapi difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa anak-anak, direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadian.

TEKNIK TERAPI PSIKOANALISIS

 Asosiasi Bebas, dalam asosiasi bebas pasien disuruh untuk bersantai dan berbaring diatas dipan dan terapis berada dibelakangnya. Kemudian pasien diminta untuk menceritakan semua yang ada dalam pikirannya tanpa disensor.
Transferensi, terjadi apabila pasien memindahkan kepada terapis emosi-emosi yang terpendam atau ditekan sejak awal masa kanak-kanak. Dalam pengalaman perawatan, emosi-emosi yang dipindahkan itu biasanya muncul dalam wujud-wujud ringan dan diarahkan kepada analis. Ketika prosedur terapi berjalan, emosi-emosi itu bertambah kuat dan berlangsung lama.
Penafsiran, penafsiran adalah setiap pernyataan dari terapis yang menafsirkan masalah pasien dalam suatu cara yang baru. Penafsiran sangat penting selama psikoanalisis berlangsung, terapis harus waspada terhadap kesempatan-kesempatan untuk menguraikan dan menafsirkan makna dinamik dari asosiasi bebas, mimpi dan tingkah laku pasien. Ia harus memperhatikan secara khusus perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien dan berusaha menemukan hubungan antara perasaan-perasaan itu dengan sifat dari hal-hal yang sedang dibicarakan. 

SUMBER

Semiun, Yustinus & OFM. (2006). Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius
Semiun, Yustinus & OFM . (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius
Lighter, Dawn M. A (1999). 50 Cara Menanamkan Tingkah Laku Positif Pada Anak. Yogyakarta: Kanisius
Gunarsa, D. Singgih (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia
Maulany, R. F. Setio Melviawati (1990). Buku Saku Psikiatri. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC

Minggu, 03 Januari 2016

Tugas Softskill 4: Komunikasi Dalam Manajemen

 KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN
 
A.    PENGERTIAN KOMUNIKASI
 
Everett M. Rogers

Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
 
Rogers & D. Lawrence Kincaid

Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yg pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yg mendalam.
 
Shannon & Weaver

Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yg saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.
 
Raymond S. Ross

Komunikasi adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yg serupa dengan yg dimaksudkan komunikator. 

B.     PROSES KOMUNIKASI

Proses komunikasi terbagi menjadi 2 (dua) tahap, yaitu proses komunikasi secara primer dan proses komunikasi secara sekunder.

1.   Proses Komunikasi Secara Primer
Pengertian proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang yang dipergunakan sebagai media primer dalam proses komunikasi ialah bahasa, gambar, isyarat, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikan.

Bahasa merupakan yang paling banyak digunakan untuk menerjemahkan pikiran seseoarang kepada orang lain. Kial, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya, hanya dapat mengomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat terbatas).

Pikiran atau perasaan seseorang baru akan diketahui oleh orang lain dan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan dengan menggunakan media primer, yaitu lambang lambang. Pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan terdiri atas isi (the content) dan lambang (symbol).

Seperti yang dipaparkan di atas, media primer atau lambang yang paling banyak digunakan dalam komunikasi adalah bahasa. Akan tetapi, tidak semua orang pandang mencari kata-kata yang sesungguhnya. Sebuah perkataan belum tentu mengandung makna yang sama bagi semua orang.

Kata-kata mengandung dua jenis pengertian, yaitu pengertian denotatif dan pengertian konotatif. Perkataan dalam Pengertian Denotatif adalah yang mengandung arti sebagaimana tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang dengan kebudayaan dan bahasa yang sama. Perkataan dalam Pengertian Konotatif adalah yang mengandung pengertian emosional atau mengandung penilaian tertentu.

Contohnya : Perkataan "Demokratis". Pengertian denotatif demokrasi adalah pemerintahan rakyat. Dalam pengertian konotatif istilah ini tidak sama bagi seorang Rusia, bagi seorang Amerika dan bagi Seorang Indonesia. Masing-masing mempunyai pandangan, pendapat dan anggapan tertentu terhadap perkataan demokrasi tersebut. Demikianlah sebuah ilustrasi yang menunjukkan betapa pentingnya bahasa dalam proses komunikasi.

2.  Proses Komunikasi Secara Sekunder
Pengertian Proses Komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif juga atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, majalah, surat kabar, radio, televisi dan banyak lagi adalah media kedua yang sering dipergunakan dalam komunikasi.
 
C.    HAMBATAN KOMUNIKASI

Beberapa faktor penghambat dalam komunikasi adalah :
      1.      Masalah dalam pengembangan pesan
Ada beberapa bentuk masalah dalam pengembangan pesan, seperti : keraguan tentang isi pesan, merasa asing dengan situasi yang ada, terjadi pertentangan emosional, sulit mengapresiasikan ide.
      2.      Masalah dalam penyampaian pesan
Umumnya terjadi karena kendala fisik dalam berkomunikasi, misalnya : aliran listrik padam, sound systemtidak bekerja dengan baik, kurangnya sarana presentasi, pesan terlalu panjang dan sebagainya.
      3.      Masalah dalam penerimaan pesan
Masalah yang muncul secara umum adalah posisi duduk yang kurang nyaman, konsentrasi terganggu, pandangan yang terhalang, jarak komunikasi yang terlalu jauh, dsb.
      4.      Masalah dalam menafsirkan pesan
Masalah ini akan terjadi jika terdapat perbedaan usia, perbedaan tingkat pendidikkan, status social, perbedaan jenis kelamin, keadaan ekonomi, dsb. Selain itu juga akan terjadi kesalahan dalam penafsiran kata karena memiliki arti ganda yang disebabkan kompleksnya latar belakang budaya.

Dalam komunikasi biasanya sering terjadi kesalahpahaman. Sehingga ada beberapa hal yang bisa menjadi hambatan dalam berkomunikasi seperti :

      · Hambatan dari proses komunikasi
1.  Hambatan media, hambatan ini sering kali terjadi seperti gambar yang tidak jelas pada siaran televisi, sehingga pesan yang ingin di sampaikan tidak sampai.
2.  Hambatan dalam membuat sandi atau symbol, hal ini terjadi karena bahasa yang digunakan kurang di mengerti, sehingga arti yang dimaksud oleh si pengirim pesan dengan yang menerima pesan, tidak sama atau hasil cetakan tulisan ada beberapa yang hilang, sehingga penerima pesan tidak dapat membaca isi pesan secara utuh.
3.  Hambatan dari pengirim pesan, disebabkan karena pesan yang akan disampaikan belum dimengerti oleh si pengirim pesan, sehinngga pesan yang akan di sampaikan menjadi tertunda atau menjadi rancu.
4. Hambatan dari penerima pesan, hal ini seringkali terjadi karena kesalahpahaman dalam mengartikan pesan yang di kirim, di karenakan kurangnya perhatian pada saat menerima pesan atau adanya sikap prasangka dan tanggapan yang keliru serta tidak mencari informasi lebih lanjut.
5. Hambatan dalam memberikan umpan balik (feedback). Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya, tidak tepat waktu atau tidak jelas.

    ·  Hambatan semantik
Kata – kata yang digunakan cenderung mempunyai arti kompleks sehingga pesan yang disampaikan menjadi tidak jelas.

    ·  Hambatan fisik
Hambatan fisik seperti cuaca, gangguan alat komunikasi, gangguan kesehatan, akan mengakibatkan terjadinyahambatan komunikasi.

    ·  Hambatan psikologi
Hambatan psikologi dan social kadang – kadang mengganggu komunikasi, seperti adanya perbedaan nilai – nilai harapan antara si pengirim pesan dengan si penerima pesan, sehingga pesan yang di sampaikan tidak sesuai dengan yang di terima.
   
D. DEFINISI KOMUNIKASI INTERPERSONAL EFEKTIF DALAM ORGANISASI YANG MENCAKUP
 
1. COMPONENTIAL
Definisi berdasarkan komponen  (componential), menjelaskan komunikasi antarpribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok orang kecil, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera.

2. SITUASIONAL
 Ialah proses komunikasi yang berlangsung antara dua orang dalam situasi tatap muka. Menurut Pace dapat dilakukan dalam 3 bentuk yakni :
• Percakapan : berlangsung dalam suasana yang bersahabat dan informal.
• Dialog : berlangsung dalam situasi yang lebih intim, lebih dalam dan lebih personal.
• Wawancara : sifatnya lebih serius, yakni adanya pihak yang dominan pada posisi bertanya dan lainnya berada pada posisi menjawab.
 
E.    MODEL PENGOLAHAN INFORMASI

1. Rational : Model ini berasumsi bahwa pembuat keputusan merupakan aktor yang bertujuan (purposeful), selalu diarahkan untuk mencapai suatu sasaran (goals) yang tersusun dengan baik (well-ordered preference).

2. Rasionalitas Terbatas (Limited Capacity) : Model rasional terbatas (bounded rationality) yang dikemukakan oleh Herbert A. Simon. Semua pembuat keputusan selalu berupaya untuk memaksimalkan keputusan demikian, keputusan harus dididukung oleh informasi, waktu, personil dan sumber daya lain yang cukup.

3. Keputusan Instrumental (Expert)  : Model keputusan inkremental (incremental decision) dipopulerkan oleh David Baybrooke dan Charles E. Lindlom. Menurut mereka dalam bidang ilmu politik (politic realm)tidak selalu dibuat mengikuti pertimbangan dan perbandingan yang hati-hati dan alternatif yang tersedia.

4. Cybernetic : Diambil dari bahasa Yunani, yang berarti pengendali. Orang yang pertama kali memperkenalkan adalah Norbert Weiner. Sibernetika memandang pembuatan keputusan politik sebagai suatu pengendalian dan pengkordinasian, usaha-usaha manusia untuk mencapai serangkaian tujuan. Faktor yang dianggap menjadi dasar atau kuncinya adalah transmisi informasi. Hasil dari proses tersebut berupa keputusan yang siap diimplementasikan dalam lingkungan yang akan menjadi sebuah informasi baru dan masuk kedalam sistem pemerimaan uyntuk dievaluasi.
 

F.  MODEL INTERAKTIF MANAJEMEN

1.   KEPERCAYAAN DIRI / CONFIDENCE
Kepercayaan diri ditunjukkan dengan tidak adanya perasaan cemas dan senantiasa nyaman bersama orang lain serta nyaman dalam situasi komunikasi. Hal ini memungkinkan orang untuk berkomunikasi dengan lebih efektif karena tidak malu-malu, gelisah, galau, khawatir. Kepercayaan diri akan membuat orang menjadi lebih santai, tidak kaku, fleksibel dalam suara dan gerak tubuh, tidak terpaku pada nada suara ter tentu dan gerak tubuh, terkendali dan tidak gugup serta canggung.

2.   KEBERSATUAN / IMMEDIACY
Kebersatuan mengacu pada adanya penggabungan antara pembicara dengan pendengar, kebersatuan menyatukan antara pembicara dan pendengar. Komunikator yang memperlihatkan kebersatuan mengisyaratkan adanya minat dan perhatian. Bahasa yang menunjukkan kebersatuan umumnya ditanggapi lebih positif daripada bahasa yang tidak menunjukkan kebersatuan.
Secara nonverbal, kebersatuan dapat dinyatakan dengan memelihara kontak mata yang pantas sehingga mampu memunculkan kedekatan fisik yang menggemakan kedekatan psikologis, serta dengan sosok tubuh yang langsung dan terbuka. Hal ini meliputi gerakan tubuh yang dipusatkan pada orang lain yang Anda ajak berinteraksi, tidak terlalu banyak melihat kesana-kemari, memberikan senyuman, dan perilaku-perilaku yang mengisyaratkan “Saya berminat kepada Anda.”

Beberapa bentuk komunikasi secara verbal yang menunjukkan kebersatuan adalah sebagai berikut :
·         Menyebut nama lawan bicara.
·         Menggunakan kata ganti yang mencakup pembicara maupun pendengar, contoh : kita.
·         Memberikan umpan balik yang relevan.
·         Pusatkan perhatian pada kata-kata lawan bicara.
·         Hargai, kukuhkan dan pujilah lawan bicara Anda.
·         Sertakan referensi diri ke dalam pernyataan yang bersifat evaluatif.

3.   MANAJEMEN INTERAKSI / INTERACTION MANAGEMENT
Dalam berkomunikasi, mereka yang terlibat di dalam proses tersebut memiliki kontribusi yang sama, tidak ada pihak yang merasa terabaikan dan tidak ada yang merasa lebih penting dan lebih dominan. Peran dalam manajemen interaksi ini dapat dilakukan dengan cara menjaga dan memberikan gerakan mata, ekspresi wajah, vocal serta gerakan tubuh yang sesuai. Selain itu dapat pula dengan memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk berbicara.

4.   PERILAKU EKSPRESIF / EXPRESSIVENESS
Hal ini mengacu pada keterampilan mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam interaksi antar pribadi. Perilaku ekspresif dapat dilakukan dengan cara mempergunakan variasi di dalam kecepatan, nada, volume dan ritme suara untuk mengisyaratkan keterlibatan dan perhatian. Selain itu, dapat pula ditunjukkan dengan menggunakan bahasa atau gerak-gerik tubuh. Terlalu sedikit gerak-gerik tubuh mengisyaratkan ketiadaan minat namun terlalu banyak gerak-gerik juga dapat mengisyaratkan ketidaknyamanan, kecanggungan dan kegugupan.

5.   ORIENTASI PADA ORANG LAIN / OTHER ORIENTATION
Orientasi pada orang lain mengacu pada kemampuan kita untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara kita selama proses komunikasi antar pribadi berlangsung. Orientasi ini mencakup pengkomunikasian perhatian dan minat kita terhadap apa yang dilakukan oleh lawan bicara kita. Perhatian dan minat tersebut dapat diungkapkan baik secara verbal maupun secara non verbal.
Secara verbal dapat diungkapkan dengan komentar-komentar seperti : “o ya!”,“oh begitu..”. Sedangkan secara non verbal dapat diungkapkan dengan memperlihatkan perasaan atau emosi lewat ekspresi wajah yang sesuai.


SUMBER



NAMA          :   RIZKI AMALIA
NMP             :   17513912
KELAS          :   3PA12

Senin, 23 November 2015

Tugas Softskill Ketiga : Mengendalikan Fungsi Manajemen & Kekuasaan dan Pengaruh

A. MENGENDALIKAN FUNGSI MANAJEMEN

1. Definisi Pengendalian (Controlling)
    Pengendalian/Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut. Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results (Schermerhorn, 2002).
    Pengendalian/Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan. The process of ensuring that actual activities conform the planned activities (Stoner, Freeman, & Gilbert, 1995).

2. Langkah-Langkah Kontrol
a. Perencanaan Strategi
b. Penyusunan Anggaran
c. Pelaksanaan Anggaran
d. Evaluasi Kinerja

3. tipe-tipe Kontrol Dalam Manajemen
a. Pengawasan pendahuluan
Dirancang untuk mengantisipasi adanya penyimpangan dari standar atau tujuan
dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu
diselesaikan.

b. Pengawasan yang dilakukan bersama dengan pelaksanaan kegiatan
Merupakan proses di mana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan – kegiatan bisa
dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.

c. Pengawasan umpan balik
Mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan.


B. KEKUASAAN DAN PENGARUH

1. Definisi Kekuasaan
    Kekuasaan (power) adalah kemampuan yang dimiliki seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi individu lain ataupun kelompok lain. Kekuasaan yang dimiliki seseorang akan menempatkan orang tersebut dalam suatu kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain yang dipengaruhinya. Pada umumnya kekuasaan akan menciptakan suatu hubungan yang vertical dalam suatu organisasi. Kekuasaan juga akan menentukan siapa yang pantas dan seharusnya mengambil keputusan (decision making) dalam suatu organisasi.
    Teori yang dikemukakan oleh French dan Raven ini menyatakan bahwa kepemimpinan bersumber pada kekuasaan dalam kelompok atau organisasi. Dengan kata lain, orang atau orang-orang yang memiliki akses terhadap sumber kekuasaan dalam suatu kelompok atau organisasi tertentu akan mengendalikan atau memimpin kelompok atau organisasi itu sendiri. Adapun sumber kekuasaan itu sendiri ada tiga macam, yaitu kedudukan, kepribadian dan politik.

 2. Sumber-Sumber Kekuasaan
     Kekuasaan Berdasarkan Kedudukan memiliki pengaruh potensial yang berasal dari kewenangan yang sah karena kedudukannya dalam organisasi terdiri dari: Kewenangan Formal dan Kekuasaan Pribadi.
    Kewenangan Formal, yaitu kewenangan yang mengacu pada hak prerogatif, kewajiban dan tanggung jawab seseorang berkaitan dengan kedudukannya dalam organisasi atau sistem sosial.
    Kontrol terhadap sumber daya dan imbalan, merupakan kontrol dan penguasaan terhadap sumber daya dan imbalan terkait dengankedudukan formal. Makin tinggi posisi seseorang dalam hirarki organisasi, makin banyak kontrol yang dipunyai orang tersebut terhadap sumber daya yang terbatas. Kontrol terhadap hukuman merupakan kapasitas untuk mencegah seseorang memperoleh imbalan.. Kontrol terhadap informasi menyangkut kontrol terhadap akses terhadap informasi penting maupun kontrol terhadap distribusinya kepada orang lain. Kontrol ekologis menyangkut kontrol terhadap lingkungan fisik, teknologi dan metode pengorganisasian pekerjaan.
      Kekuasaan pribadi menjelaskan bahwa kelompok sumber kekuasaan berdasarkan kedudukan akan berlimpah pada orang-orang yang secara hirarki mempunyai kedudukan dalam organisasi. Pengaruh potensial yang melekat pada keunggulan individu terdiri dari: Kekuasaan keahlian (expert power), Kekuasaan kesetiaan (referent power), dan Kekuasaan karisma.
    Kekuasaan keahlian (expert power) merupakan kekuasaan yang bersumber dari keahlian dalam memecahkan masalah tugas-tugas penting. Semakin tergantung pihak lain terhadap keahlian seseorang, semakin bertambah kekuasaan keahlian (expert power) orang tersebut.
    Kekuasaan kesetiaan (referent power) merupakan potensi seseorang yang menyebabkan orang lain mengagumi dan memenuhi permintaan orang tersebut. Referent power terkait dengan keterampilan interaksi antar pribadi, seperti pesona, kebijaksanaan, diplomasi dan empati.
    Kekuasaan karisma merupakan sifat bawaan dari seseorang yang mencakup penampilan, karakter dan kepribadian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk suatu tujuan tertentu.

3. Definisi Pengaruh
    Sebagai esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan, mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
    Jika kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi  dan  proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan pengikut, juga akan menentukan efektivitas kepemimpinan.

4. Pengaruh Taktik Organisasi
      Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Selain menggunakan kekuasaan, ada berbagai cara yang dapat digunakan oleh orang yang berada dalam organisasi untuk mempengaruhi orang lain.
     Taktik-taktik mempengaruhi (Influence Tactics) adalah cara-cara yang biasanya digunakan oleh seseorang untuk mempen-garuhi orang lain, baik orang yang merupakan atasan, setingkat, atau bawahannya. Dengan mengetahui dan menggunakan hal ini, maka seseorang dapat mempengaruhi orang lain, dengan tidak menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.
      Kipnis dan Schmidt adalah peneliti yang pertama kali meneliti taktik-taktik yang biasa digunakan orang untuk mempengaruhi orang lain. (Kipnis dan Schmidt, 1982). Berbagai alat ukur telah dibuat untuk meneliti taktik mempengaruhi, dan salah satu yang terbaik adalah yang dibuat oleh Yukl dkk, yaitu yang disebut Influence Behavior Questionnaire (Yukl, Lepsinger, and Lucia, 1992). Hasil penelitian Yukl dkk, menun-jukkan ada sembilan jenis taktik yang biasa digunakan di dalam organisasi (Hugheset all, 2009), yaitu:
     Persuasi Rasional (Rational Persuasion), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan alasan yang logis dan bukti-bukti nyata agar orang lain tertarik.
      Daya-tarik Inspirasional (Inspirational Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan suatu permintaan atau proposal untuk membangkitkan antusiasme atau gairah pada orang lain.
       Konsultasi (Consultation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan mengajak dan melibatkan orang yang dijadikan target untuk berpartisipasi dalam pembuatan suatu rencana yang akan dilaksanakan.
      Mengucapkan kata-kata manis (Ingratiation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan kata-kata yang membahagiakan.
      Daya-tarik Pribadi (Personal Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain atau memintanya untuk melakukan sesuatu karena merupakan teman atau karena dianggap loyal.
       Pertukaran (Exchange), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan memberikan sesuatu keuntungan tertentu kepada orang yang dijadikan target, sebagai imbalan atas kemauannya mengikuti suatu permintaan tertentu.
        Koalisi (Coalitions), terjadi jika seseorang meminta bantuan dan dukungan dari orang lain untuk membujuk agar orang yang dijadikan target setuju.
     Tekanan (Pressure), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan ancaman, peringatan, atau permintaan yang berulang-ulang dalam meminta sesuatu.
      Mengesahkan (Legitimacy), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan jabatannya, kekuasaannya, atau dengan mengatakan bahwa suatu permintaan adalah sesuai dengan kebijakan atau aturan organisasi.


Daftar Pustaka :
Sukoco, Badri Munir. (2007). Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Jakarta: Erlangga.
Tangkilisan, Drs.Hessel Nogi S. (2005). Manajemen Publik. Jakarta: PT. Grasindo.
Umar, Husein. (2000). Business An Introduction. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Media.



NAMA        : RIZKI AMALIA
NPM           : 17513912
KELAS        : 3PA12